AFTA (ASEAN Free Trade Area)
a. Menciptakan
pasar tunggal dan basis produksi internasional
b.
Menarik
investasi asing langsung
c.
Memperluas
perdagangan dan investasi intra-asean
AFTA
juga dibuat sebagai tanggapan atas munculnya pengelompokan regional lainnya,
seperti Area Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dan perluasan Uni Eropa
(UE). Selain itu juga untuk memanfaatkan potensi besar dan saling melengkapi
yang ada di Kawasan ASEAN untuk memperkuat dan memperdalam hubungan industri
intra-ASEAN termasuk menciptakan usaha kecil dan menengah yang kuat dan
kompetitif.
Liberalisasi
perdagangan di kawasan melalui penghapusan tarif intra-regional dan hambatan
non-tarif telah berkontribusi dalam membuat sektor manufaktur ASEAN lebih
efisien dan kompetitif di pasar global. Hasilnya, konsumen dapat memperoleh
barang dari produsen yang lebih efisien di ASEAN, sehingga menciptakan
perdagangan intra-ASEAN yang kuat.
Mekanisme
utama untuk mencapai tujuan AFTA adalah Skema Common Effective Preferential
Tariff (CEPT) yang menetapkan jadwal bertahap pada tahun 1992 untuk
meningkatkan “Keunggulan kompetitif kawasan sebagai basis produksi untuk pasar
dunia”. Pengurangan dan penghapusan tarif intra-regional di ASEAN secara
bertahap dilakukan berdasarkan tingkat kepekaan produk terhadap industri dalam
negeri masing-masing Negara Anggota ASEAN atau ASEAN Member States (AMS).
Berbeda
dengan Uni Eropa, AFTA tidak menerapkan tarif eksternal umum untuk barang
impor. Setiap anggota ASEAN dapat mengenakan tarif atas barang yang masuk dari
luar ASEAN berdasarkan jadwal nasionalnya. Lebih dari 99% produk dalam CEPT
Inclusion List (CIL) ASEAN-6 yang terdiri dari Negara-negara seperti Brunei
Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand sudah
menerapkan tarif 0-5%, sedangkan di negara lain seperti Kamboja , Laos, Myanmar
dan Vietnam, tarif sedang dalam tahap pengembangan.
Sumber:
https://fta.miti.gov.my/index.php/pages/view/asean-afta
https://djpen.kemendag.go.id/app_frontend/contents/53-indonesia-in-fta



Komentar
Posting Komentar